Rabu, 28 April 2010

Kembali ke Desa

Bagi sebagian orang, mungkin juga termasuk anda dikatakan sebagai orang desa atau orang kampung adalah penghinaan. Identitas yang melekat sebagai orang desa dianggap memalukan dan menjijikan, tak jarang orang yang berasal dari desa dianggap tak tahu kemoderenan dan kampungan.
Tahukah Anda, jaman sekarang adalah jamannya kembali ke desa/kampung?
Pada abad 21 ini muncul isu yang namanya pemanasan global, dimana suhu bumi meningkat, maka para ahli berlomba-lomba membuat suatu prototipe rumah yang ramah lingkungan. Orang kota berlomba-lomba membuat penginapan di pedesaan, seperti pake bilik bamboo dan atap jerami. Padahal di desa saya dulu, sangat banyak rumah-rumah yang menggunakan atap berlapis ijuk, atau dari daun ilalang, tanpa kaca, hanya bilik bambu dan jendela sebagai penutup rumahnya.
Dari sisi kehidupan, orang desa memiliki rasa toleransi, kerjasama dan kebersamaan yang sangat erat antar mereka. Bagaimana mereka saling bahu-membahu, tolong menolong tanpa pamrih antar sesama warga, mereka sangat terbuka, sehingga kehidupan mereka seolah-olah tidak ada masalah, sangat jarang orang prustasi, apalagi bunuh diri. kegiatan ini mungkin yang belum terlihat oleh orang kota, sehingga orang desa yang ke kota dan kembali ke desa/kampung, sebagian besar tercemari otaknya dengan kehidupan kota yang individualis, materialis, hedonis, atheis, spilis dan paham is lainnya.
Desa adalah aset yang berharga bagi bangsa. Anak-anak desa/kampung memiliki hasrat dan cita-cita sangat kuat walau fasilitas yang minim dibandingkan kota. Tak salah bila seharusnya pemerintah membuat program-program untuk memajukan dan mensejahterkan orang desa.
Dilihat dari segi definisnya desa, atau udik, menurut definisi universal, adalah sebuah aglomerasi permukiman di area perdesaan (rural). Di Indonesia, istilah desa adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia di bawah kecamatan, yang dipimpin oleh Kepala Desa, sedangkan di Kutai Barat, Kalimantan Timur disebut Kepala Kampung atau Petinggi.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, disebut bahwa Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormat.
Sejak diberlakukannya otonomi daerah Istilah desa dapat disebut dengan nama lain, misalnya di Sumatera Barat disebut dengan istilah nagari, dan di Papua dan Kutai Barat, Kalimantan Timur disebut dengan istilah kampung. Begitu pula segala istilah dan institusi di desa dapat disebut dengan nama lain sesuai dengan karakteristik adat istiadat desa tersebut. Hal ini merupakan salah satu pengakuan dan penghormatan Pemerintah terhadap asal usul dan adat istiadat setempat.
Demikianlah sekelumit tentang desa.

Minggu, 17 Mei 2009

Ilmu-Ilmu Aneh

“Saya jadi heran, kenapa yang harus diujikan dalam Ujian Nasional dulu adalah tes kecerdasan logika-matematika dan kecerdasan bahasa (liguistik). Padahal tak semua bus di terminal ini menuntut kecerdasan logika-matematika atau linguistik. Jurusan Desain misalnya, jelas menuntut penumpangnya memiliki kecerdasan ruang. Atau jurusan musik yang menuntut kecerdasan musik dari para calon penumpangnya”.

(Immawan Fahd Djibran Dalam Buku Insomnia Amnesia)

Ketika membaca penggalan kalimat di atas saya merasa tidak percaya dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Ko bisa-bisanya apa yang dahulu saya rasa mengherankan ternyata Fahd juga merasakan hal yang sama. Baru kali ini saya tahu Fahd menuliskan keherananya itu. Perkenalan saya dengan Fahd pun baru kali ini juga semenjak menginjakan kaki di dunia kampus, UMY, terutama IMM. Memang dulu saya tahu namanya dari cerita seorang penulis buku “Filsafat Untuk Umum” yang saya temui di Garut. Tapi saya belum pernah bertemu dengan Fahd kecuali saat ini, saya tidak mengenali wajahnya kecuali saat ini juga. Apalagi saya bisa menyelami nalarnya, itu sesuatu yang tidak mungkin.

Saya merasakan kejanggalan ketika mengikuti ujian SPMB (Saringan Penerimaan Mahasiswa Baru) di sekolah BPK Penabur Jl.Pasir Kaliki Bandung. Ketika saya dihadapakan pada soal-soal ujian tiba-tiba terbersit dalam fikiran saya, “ko soalnya kaya gini ?, pilihan saya kan Ilmu Komunikasi dan Ilmu Administrasi Negara, keduanya masuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tapi pertanyaanya satu pun tidak ada yang bersangkut paut dengan masalah-masalah politik. Kenapa pertanyaanya malah soal-soal matematika dasar, Sejarah, dan teori-teori ekonomi akuntansi yang saya benci?”. Dengan penuh kekesalan dan keyakinan tidak akan lulus SPMB saya mengerjakanya asal-asalan, sesekali saya menghitung kancing kemeja baju untuk mencari jawaban A, B, C, D, atau E.

Saya benar-benar tidak suka dengan ekonomi akuntansi, sejarah, dan matematika dasar. Semuanya terasa membosankan, lebih baik saya membaca Koran dari pada mempelajari pelajaran-pelajaran itu. Sebelumnya saya yakin dengan wawasan yang saya miliki saya bisa untuk belajar ilmu politik di Universitas Negri. Setiap hari saya membaca Koran, sebelum menginjakan kaki di Universitas pun saya sudah kenal dengan Efendi Ghazali, Adrianof.A.Chaniago dan Arbi Sanit. Tulisan-tulisan meraka menjadi makanan saya sehari-hari, kritik-kritik tajam sering terlontar dari mereka untuk pemerintah. Saya pun tertarik dengan ilmu politik, terkhusus komunikasi politik dari mereka. Niat saya tulus ingin mempelajari ilmu politik, ingin menjadi penulis lepas untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak baik.

Ketika pulang dari BPK Penabur kembali pikiran saya terkejut. Teman-teman semuanya sedang berdiskusi tentang susahnya soal SPMB yang tadi keluar. Ternyata soal yang sedang mereka diskusikan sama dengan soal yang saya kerjakan. Padahal pilihan universitas, fakultas dan jurusan kami berbeda-beda, ada yang Hukum, psikologi dan Seni Musik. Saya semakin heran, ko bisa, soal untuk yang memilih komunikasi sama dengan yang memilih ilmu hukum dan seni. Kenapa bisa-bisanya begini. Buat apa soal sejarah, matematika dasar dan ekonomi akuntansi itu ditanyakan, bukanya ilmu komunikasi, ilmu hukum dan seni tidak ada hubunganya sama sekali dengan mata pelajaran yang diujikan itu?.

Kalau sistemnya begini terus bakat-bakat yang dimiliki anak-anak seusia saya pasti semuanya tidak akan berkembang, terpenggal oleh sistem pendidikan yang tidak dimengerti oleh peserta didik arahnya ke mana. Bakat saya di dunia politik tidak seberapa, cuma pernah mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Sementara bakatnya si Divsi bagaimana? Dia punya skill dalam bermain gitar, suaranya bagus beberapa kali pernah juara dalam lomba nyanyi di sekolah. Tapi cita-citanya kandas untuk belajar di jurusan seni musik, mata pelajaran dari soal ujian SPMB sama musuh dia juga.

Sialan sudah, kalau seperti ini universitas apa pun yang mau menerima orang bodoh, pemalas, musuh dari mata pelajaran-pelajaran tertentu akan saya pijaki. Tapi saya berpijak tidak dengan harapan yang menggebu, malas harus menyandarkan pada sesuatu yang naïf berbentuk bangunan megah. Bangunan megah yang tak memperkenalkan Filsafat secara menyeluruh, Tasauf, Hermeneutika, dan ilmu-ilmu aneh lainya. Padahal bagi saya banguanan ilmu-ilmu yang dianggap aneh ini sangatlah penting, ia adalah pondasi semangat perubahan untuk menentang kemapanan yang dzalim. Ilmu itu tidak terbatas hanya berada dalam lingkaran formal, ilmu ini luas, bisa belajar dari siapa pun termasuk dari seorang pelacur sekalipun, sebagaiamana Siddhartha belajar cinta dari Kumala, kesederhanaan dari para samana, dan belajar kehidupan dari aliran air sungai hingga ia sampai pada puncak kebijaksanaan tertinggi, yaitu Om. Wallahu a’lam.

Ajaran IBu

Assalamualikum.

Obit sahabatku, lama sekali kita tak saling menyapa. Kau sibuk dengan kuliahmu, begitupun aku tak jauh beda denganmu. Tapi aku yakin, hobimu tidak akan berubah, masih senang menikmati ruas-ruas jalan kota Bandung di malam hari, masih senang mengencangkan gas di tengah kerumunan angkot di jalan Pasir Kaliki dan Astana Anyar. Tak masalah bila itu bisa menghilangkan kepengapanmu, sebagai sahabat aku ikut mendukung semoga kau menjadi pembalap sungguhan seperti cita-cita yang kau inginkan.

Malam ini aku ingin berbagi kisah denganmu. Aku ingin mengeluh tentang suatu hal kepadamu. Simaklah baik-baik, aku yakin apa yang aku keluhkan ini kamu pun akan merasakannya, karena aku tahu betul bagaimana kamu, bersahajanya keluargamu, ibumu, ayahmu, dan juga nenekmu. Kalian adalah keluarga percontohan di antara kekacauan keluarga-keluarga yang berada di sekitar Babakan Bandung. Mereka rusak oleh kekuatan modernitas yang diajarkan actor-aktor kesesatan Tegal Legala.

****

Bit, kalau nggak salah kau takut betul dengan Ulat, sebetulnya aku tahu kau bukan menakutinya, hanya jiji saja melihatnya. Aneh badanmu kekar, sembada, atletis walaupun tidak terlalu bila dibandingkan dengan Oval.

Kakaku hampir mirip denganmu, dia teramat takut sama Cacing, andai melihatnya pastilah dia akan teriak. Pernah suatu waktu dia sedang makan di kebun, kebetulan saat ayah mencangkul ternyata ada Cacing tanah yang terangkat oleh cangkul, seketika itu juga kakaku menghentikan makannya, dia muntah. Padahal bagiku biasa-biasa saja, sama sekali tak berpengaruh apa-apa.

Beda dengan nenekku dari ayah. Dia sama persis denganmu, takut sama Ulat. Andai ada Ulat terlihat olehnya, sudah dapat dipastikan dia akan teriak ketakutan. Wajahnya yang keriput akan semakin keriput. Begitupun tubuhnya, menggigil ketakutan. Aneh padahal dia Cuma melihat saja, Ulat sama sekali tidak berbuat apa-apa padanya. Pernah suatu waktu saat kami sedang memetik sayuran di depan rumah, Ibuku melihat ada Ulat di kerudungnya. Dengan perlahan ibu menggambilnya, neneku awalnya tidak sadar kalau di kerudungnya ada Ulat. Namun sayang strategi ibu tidak tepat, dia malah minta ijin sama nenek untuk mengambilnya. Seketika itu juga nenek lari terbirit-birit, menakutkan, seperti orang yang sedang kesurupan.

Aku yakin dengan seyakin-yakinnya, setiap orang mempunyai ketakutan terhadap sesuatu, baik binatang, makanan, atau selain dari keduanya. Ada yang takut terhadap Kucing, ada yang takut terhadap Burung, dan ada juga yang takut terhadap Tikus.

Ada yang alergi sama bawang, ada yang membenci mie, bahkan ada yang ketakutan bila melihat nasi, seperti anak tetanggaku. Dari kecil makannya mie, kalau diperlihatkan Nasi pastilah dia akan menangis. Dan itu adalah kerjaaan ibuku, dia terkadang iseng, menawarkan nasi padanya.

****

Mungkin saat ini giliranku.

Sudah waktunya aku menceritakan binatang apa yang aku takuti. Baiklah Bit aku akan menceritakannya padamu. Sekalipun aku yakin, pastilah kamu masih ingat binatang apa yang paling aku takuti itu.

Sebetulnya sama sekali aku tidak menakutinya, hanya saja entah kenapa setiap kali berhadapan dengan bintang itu nyaliku selalu menciut. Tadi sepulang main futsal di jalan Parang Tritis, aku dan teman-temanku sengaja memilih jalan-jalan kecil, kami tidak memilih jalan raya, soalnya temanku semua tak memakai helem. Andai melewati jalan raya, pastilah bila berjumpa dengan polisi kami akan ditangkap.

Di tengah-tengah himpitan rumah-rumah yang berarsitek dan bertekstur perkotaan, seekor Anjing menghalangi jalan yang akan ku lalui. Temanku memainkan Anjing itu, mengajaknya bercanda, dia berharap supaya Anjing itu mengejar kami.

“Eeeeh jangan, jangan, aku takut.” Aku memintanya supaya membiarkan Anjing itu pergi. Tapi dia malah semakin menjadi, memelototi Anjing itu tak hentinya, sambil mengelurakan bunyi-bunyi ejekan dari mulutnya. Dan syukurlah Anjing itu pergi, masuk ke salah satu gerbang pintu rumah.

“Kenapa kau takut dengan Anjing?” Temanku merasa perlu untuk menanyakan hal itu kepadaku.

Sama halnya ketika aku merasa perlu untuk menanyaimu kenapa takut sama Ulat. Dan kamu kebingungan untuk menjawab, kenapa kamu takut sama Ulat. Sama sekali kamu tak memahaminya. Makanya aku hanya membiarkanmu gelagapan dalam kebingungan.

Ternyata Bit setelah aku renungkan aku tahu kenapa aku takut sama Anjing. Saat masih kecil ibu menceritakan padaku, kalau dulu saat dia masih SMP pernah digigit Anjing. Karenanya ibu harus disuntik sebanyak 6 kali di sekitar pusarnya, untuk menghindari penyakit rabies yang ditularkan Anjing. Cerita itu selalu diulang-ulang oleh ibu, baik sebelum tidur, ataupun saat aku bersenda gurau dengannya. Sekalipun diulang-ulang aku sama sekali tak merasa bosan, cerita pertama kalinya sama menariknya dengan cerita berikut-berikutnya, aku selalu sigap dalam mendengarkannya.

“Anjing itu menularkan penyakit rabies, awas hati-hati!” Akhir dari serita ibu pastilah selalu diakhiri dengan peringatan itu. Cerita itu sangat membekas di kepalaku. Mungkin karena ibu terlalu sering menceritakannya.

Karena ajaran ibu itulah aku menjadi takut sama Anjing, setiap kali melihat Anjing pastilah kepalaku merunduk, nyaliku dibutak kecut. Seandainya aku melewati suatu rumah yang di depannya dijaga oleh beberapa Anjing pastilah aku akan menunggu orang lain, sampai akhirnya aku bisa berbarengan dengan didampingi orang itu.

Pernah suatu waktu aku terjebak di antara himpitan jalan kecil yang diapit oleh beberap rumah. Jalan itu hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Ternyata aku dihadapapkan dengan seekor Anjing dari arah berlawanan yang sama hendak melewati jalanan itu. Kata Ibu kalau ada Anjing jangan lari, seandainya kita lari Anjing akan mengejar kita. Teringat nasihat itu sekalipun aku ketakutan tetaplah aku berusaha tegar untuk tidak lari. Warna Anjingnya hitam, dan itu yang membuatku lebih takut lagi. Masih terekam diingatan, Anjing yang menggigit ibu dulu hitam juga warnanya.

Anjing semakin mendekatiku, matanya tajam melihatku, sementara mulutnya mengeluarkan liur dengan lidah menjulur ke depan. Terlihat taring giginya begitu tajam. Sekuat tenaga aku berusaha membernaikan diri. Aku yakin posisku dan Anjing itu sama. Aku takut sama dia, bagitupun sebaliknya Anjing itu nampak ketakutan juga olehku. Kata ibu kalau sama Anjing jangan memperlihatkan kita ketakutan, tapi harus pura-pura menunjukan keberanian, sekalipun sebetulnya kita takut.

Untuk menunjukan keberanian aku menatap matanya yang menyorot ke arahku, dan terjadilah pertemuan sorotan matanya yang tajam dengan sorotan mataku. Wajah ku setting seganas mungkin, supaya Anjing itu lari. Dan “Wah…..hhhhh” Aku membentaknya, seolah ingin menerkamnya. Namun ternyata Anjing itu malah berbalik ingin menerkamku, sama sekali tanpa ku sangka sebelumnya. Seluruh tubuhku tiba-tiba lemas, tak sadarkan diri, aku lari sekencang mungkin, terbirit-birit sampai sandalku terlepas.

Dari sejak itu aku semakin takut sama Anjing. Lebih baik aku harus jalan kaki sejauh 1 kilometer dari pada harus menaklukan seekor Anjing.

****

Dalam makanan aku sangat benci sama yang namanya seledri, pastilah saat aku makan bubur ayam, atau bakso selalu berpesan supaya jangan pake seledri. Aku tak tahu kenapa aku begitu membencinya, enggan mencobanya, dan tak mau untuk mengakhiri rasa sebalku sama seledri ini.

Dulu kalau aku berkunjung ke rumah nenek dari ibuku, pastilah ibu selalu mengajakku dan kakaku untuk makan bakso. Ada yang khas dari makan baksonya ibu. Dia selalu berpesan sama pedagannya supaya jangan pake seledri. Kemudian dia menanyaiku dan kakaku.

“Pake seledri nggak?” Tanya ibu, dan seketika kami kompak menggelengkan kepala. “Jangan, seledri itu nggak enak, bau!” lanjut ibu, dan itulah yang tertanam dalam benaku dan kakaku. Tidak hanya satu kali, tapi berulang-ulang, tidak hanya saat makan bakso, begitupun saat dihadapkan pada sayur suf, pastilah ibu selalu tak mau untuk memakan suf yang memakai seledri. Aku dan kakaku kompak juga, mengikuti kebiasaannya ibu.

Hal lainnya ibu sangat membenci Ikan yang dipelihara di kolam. Pastilah ibu takan pernah mau bila disuruh untuk memakannya sekalipun dia diberi hadiah sebesar apapaun. “Jorok, ih, makan ikan dari kolam!” Ibu selalu mengatakan seperti itu. Maklum kebanyakan kolam di tempatku—sekalipun tidak semua---suka dipakai buang air besar, makanya ibu bilang jorok, karena makanan Ikan itu adalah kotoran manusia. Tapi sekalipun Ikan berasal dari kolam yang tidak dipakai untuk buang air besar, ibu tetaplah tak mau untuk memaknnya. Beda halnya dengan Ikan yang ditangkap dari sungai, ibu mau untuk memakannya, padahal jenis Ikannya sama-sama Ikan tawar.

Kembali kebiasaan ibu yang ketiga ini tertanam dalam pola pikirku dan kakaku. Kaka dan aku nggak suka bahkan benci sama Ikan air tawar, hanya ayahku yang menyukainya. Bahkan terkadang aku lebih baik tidak makan bila lauk yang tersedia hanya Ikan air tawar. Dan itu yang dilakukan oleh ibu, sama juga dengan kakaku, seperti itu juga.

Betapa mendalamnya ajaran-ajaran yang telah ibu contohkan kepada kami.

****

Dari sejak kecil ayah selalu menanyaiku, sudah cuci kaki atau belum? Ketika aku hendak tidur. Dan pastilah dia akan mengajaku untuk mencuci kaki, bila aku menjawab belum. Setiap malam pastilah selalu melakukan hal yang sama. Terkadang aku berbohong sama dia, dengan mengatakan “Udah” padahal sebetulnya belum. Dan seketika kakaku akan berteriak, dia mengatakan sama ayah kalau aku belum mencuci kaki. Karenanya aku marah sama dia, begitupun sebaliknya dia tak mau kalah denganku dan jadilah kami berdua bertempur, sampai akhirnya salah satu di antara kami ada yang menangis.

Urusan cuci kaki ayah yang mengurus.

Sementara ibu mengurusi doa sebelum tidur. Dia membimbingku supaya membacanya, setiap malam. Saat ibu sedang sibuk dengan pekerjaannya untuk merekap nilai-nilai hasil ulangan dan aku dimakan kantuk di sampingnya pastilah ibu akan menggoyangkan badanku bila aku ketiduran.

“Baca doa dulu, falaq binnas, dan qul hua Allah!” Pintanya, kemudian dia melanjutkan kembali pekerjaannya. Maksud dari falak itu adalah surat al-Palaq, binnas surat an-Nas dan qul hua Allah adalah al-Ikhlas. Kata ayah dengan membaca ketiga surat itu aku akan terhindar dari kejahatan baik yang dilakukan oleh manusia ataupun oleh yang selain manusia.

Ibu juga paling melarang bila aku meminjam sesuatu kepada orang lain. Apalagi dalam urusan uang, itu paling tidak boleh dari ajaran ibu, “Jangan dibiasakan meminjam uang.” Jelasnya. Pernah suatau waktu aku mengenakan baju yang tidak dikenali ibu, “Baju siapa itu?” Ibu menanyaiku, aku pun menjelaskan padanya kalau aku tukaran pakai sama teman. Wajah ibu seketika cemberut, “Jangan diulangi lagi, kali ini ibu maafkan.” Dan sampai saat ini hal itu selalu aku pegang. Berusaha sekuat tenaga supaya nggak minjam uang sama orang lain dan memakai barang milik orang lain.

****

Saat masuk Sekolah Dasar aku sudah bisa membaca, begitu juga al-Qur’an aku sudah Iqra 6 dan sebentar lagi berpindah ke al-Qur’an. Di kelas karenanya aku dianggap yang paling siap untuk sekolah di antara teman-teman yang lain. Sekalipun memang gurunya juga Ibuku.

Bila sampai di rumah ibu selalu mengecek PR-ku, membimbingku sampai aku bisa mengerjakan sendiri. Aneh kenapa ibu selalu menanyai PR padaku padahal di sekolah yang memberikan PR-nya pun dia. Kemudian setelah PR selesai aku dibimbingnya membaca, bacaan paforitku adalah cerita-cerita anak, seperti tentang Bebek yang sombong, Kancil yang berhasil menyelamatkan diri dari Buaya dan kisah Kura-Kura, tentang Monyet yang melakukan kelicikan padanya.

“Pengen didongengin..!” Aku meminta ibu supaya mendongeng setelah aku selesai membaca. Dengan senang hati ibu akan mendongengkan cerita lucu padaku. Ibu lucu, pastilah dongengnya dibuat main-main, kisahnya dirubah sampai aku tertawa. Terkadanga merengeng, dan memukul-mukulinya, karena dia membuatku penasaran dengan megehentikan kisahnya sebelum berakhir. “Bersambung.” Katanya, “Besok dilanjutin” lanjutnya lagi. Aku memaksanya untuk melanjutkan, sambil tertawa-tawa ibu akhirnya menceritakan akhir dari kisahnya.

Ada juga ketika aku main kelereng atau layangan sama teman-temanku, pastilah hal pertama saat aku pulang ke rumah ibu akan bertanya, “Sudah shalat belum?” bila aku menggelengkan kepala dia akan bilang “Bagus yah, main kelereng terus, shalat dulu.” Atau terkadang sebaliknya, aku dilarang bermain sebelum shalat, setelah aku shalat barulah aku diijinkannya untuk bermain.

****

Bit, ternyata sekarang aku baru paham, apa yang diajarkan ibu kepadaku adalah apa yang diajarkan nenek sama ibu. Dan itu sangat tertanam pada diri ibu. Begitupun apa yang diajarkan ibu kepadaku, sangat tertanam dalam keseharianku, aku menjadi terbiasa karenanya. Aku sampai sekarang tak berani meninggalkan shalat, sekalipun kalau lalai iya. Baca doa iya, cuci kaki iya juga. Begitupun dalam ketakutanku sama Anjing, aku masih takut, seledri aku nggak suka, tapi nggak seextrim dulu.

Adapun Ikan sekarang aku sudah berani untuk memakannya, dulu aku nggak berni makan Ikan air tawar kecuali Ikan dari sungai. Dalam urusan Ikan, aku pernah dihadapkan pada situasi saat aku lapar, dan tak ada apapun sebagai lauk kecuali Ikan, terpaksa aku memakannya, ternyata Ikan air tawar itu enak, dari saat itulah aku berani untuk memakan Ikan air tawar.

***

Sebagai akhir dari suratku untukmu Bit, dari semua cerita yang aku kisahkan, sebetunya aku hanya ingin membenarkan sebuah statement yang mengatakan bahwa “Guru yang terbaik untuk anak-anak adalah ibu, karena Ibu adalah guru pertamanya.” Dia yang mengajari cara makan, minum dan sebagainya. Anak akan selalu melihat prilaku ibu, bila ibu melakukan A maka dia akan mengikutinya, begitupun saat ibu tidak mau untuk melakukan B maka anak akan mengikutinya juga.

Kemarin aku ditanya sama salah seorang guruku, Mis Morra Quatro “Tipe perempuan seperti apa yang ingin kamu nikahi?” Tanyanya. Tanpa sungkan dan tanpa canggung aku langsung menjawabnya “Seperti ibuku” jawabku dengan mengisahkan beberapa hal yang istimewa dari ibu secara singkat.

Memang kita masih muda Bit, umur kita masih 19 tahun, tapi tanpa bisa dipungkiri suatu saat kita akan menikah. Melihat pergaulanmu yang terlalu over terhadap perempuan, sebagai sahabat aku hanya ingin berpesan saja. Andai kamu memilih calon pendamping hidupmu jangan perempuan-perempuan yang selama ini sering kamu ajak berkencan. Ingat Bit, kita akan punya anak, anak kita akan baik andai yang mendidiknya adalah ibu yang baik, tapi anak kita akan jelek akhlaknya bila ibunya tidak bisa menjadi guru pertama yang baik untuk anak kita.

Bayangkan Bit, andai kelak pendamping hidup kita jauh dari nilai-nilai yang diajarkan al-Qur’an, aku sudah dapat bisa memastikan, anak kita akan jauh juga dari nilai-nilai qur’ani. Andai ibu dari anak kita seorang yang terbiasa makan dengan tangan kiri, atau makan sambil berdiri, anak kita akan menirunya, anak kita akan mencontohnya.

Tapi sebelum kita mencari calon istri yang terbaik untuk mendidik anak-anak kita, kelak. Kita juga harus tahu diri, kelak harus menjadi ayah yang terbaik untuk anak-anak kita. Kita harus sudah mempersipkannya dari sekarang. Kapan-kapan aku ingin menginap lama lagi di rumahmu. Ayahmu begitu mengagumkan, ibumu juga, keduanya bersahaja, sekalipun terkadang aku malu dengan kedua orang tuamu. Kerjaanku hanya berdiam diri di kamar, nonton televisi dan main game menemani adikmu.

Sampai ketemu akhir ramadhan Bit, insyallah aku akan ke Bandung bulan itu.

As-salamualaikum.

NB: Minta saran bagaimana supaya aku nggak takut lagi sama Anjing!

Rabu, 14 Januari 2009

Membaca Quraish Shihab Dalam



Imamah

Istilah syiah berasal dari kata bahasa arabﺓﻉﻱﺵ Syiah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syi i ﻱﻉﻱﺵ

Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna ; pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna ; setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (htp//.www.wiekipedia.com)

Penulis menambahkan penjelasanya dari buku “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan Mungkinkah?”, karya Quraish Shihab. Menurut Quraish Shihab perlu digaris bawahi bahwa kelompok Syiah pun menamai diri mereka sebagai Ahl as-sunnah, dalam pengertian bahwa mereka juga mengikuti tuntunan Nabi.

Syiah kata Quraish Shihab (2007: 60-61) secara etimologi berarti pengikut, pendukung, pembela, pencinta, yang kesemuanya mengarah kepada makna dukungan ide atau individu dan kelompok tertentu. Muhammad awad Maghniyah---seoarang ulama berlairan syiah---, memberikan definisi bahwa ‘mereka yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw, telah menetapkan dengan nash (pernytaan yang pasti) tentang khalifah Beliau dengan menunjuk imam Ali’.

Sementara masih menurut Quraish Shihab, seorang sunni penganut aliran Asy’ariyah mendefinisikan syiah; ‘mereka yang mengikuti Sayyidina Ali ra. Dan percaya bahwa beliau adalah imam sesudah Rasul saw. Dan percaya bahwa imamah tidak keluar dari beliau dan keturunanya’.

Secara khusus sebagaiaman yang tertera dalam dalam jurnal (htp//.www.wiekipedia.com) dijelaskan bahwa syiah mengakui Ali bin Abi Thalib sebagai penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad. Berbeda dengan kalangan sunni yang meyakini kekhalifahan Khulafaurrasyidin. Syiah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung dimana perintah Nabi berarti sama dengan wahyu.

Quraish Shihab (2007: 122) menyatakan benar bahwa Ali adalalah imam kaum muslimin sesudah Nabi wafat. Tetapi, seperti yang dikemukakan Ali Syaritai :

‘Risalah Ali yang melampaui seluruh syahadah dan jihad yang lebih agung dari semua medan perang yang pernah dihadirinya….beliau tidak berbicara sepatah kata pun demi menjaga keutuhan islam, seperti yang pernah beliau katakana; aku bersabar walau di mataku ada butir penghalang dan di tenggorokanku ada kesedihan’.

Abbas Mahmud al-Aqqad---cendikiawan Mesir---menulis ‘Ali meyakini benar haknya dalam hal itu (kepemimpinana pasca Rasulalallah) tetapi beliau menginginkanya sebagai suatu hak yang dituntut oleh umat terdahulu sebelum beliau yang menuntutnya, karena itu beliau tidak aktif menuntut hakya. Hanya saja beliau bersama sekian sahabat tidak ikut membaiat Abu Bakar sampai setelah enam bulan dari masa jabatan Abu Bakar’.

Dari penjelasan Quraish Shihab yang mengutip seorang pemikir Syiah dan seorang pemikir Sunni ini dapat dipahami bahwa sebetulnya yang berhak untuk menggantikan kekhalifahan pasca wafatnya Nabi adalah Ali. Ali mengetahui dan menyadari akan haknya, tetapi ia memilih untuk diam menunggu kaum muslimin membaitnya.

Al-Githa menyatakan ‘syiah percaya bahwa allah memerintahkan Nabi-Nya untuk menunjuk dengan tegas Ali dan menjadikanya tonggak pemandu bagi manusia sesudah beliau’. ‘Nabi yang telah menetapkan dengan tegas Ali, dan beliau mewasiatkan kepad putrnya al-Hasan, lalu al-Hasan mewasiatkan saudaranya al-Husain, demikian seterusnya sampai imam yang ke dua belas yakni al-Mahdi yang dinanatikan’. (Quraish Shihab, 2007 : 98-99)

Perlu dicatat, inilah yang penulis rasa paling penting, sebahagian dari kita mengira syiah imamiah tidak senang bahkan benci terhadap kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Usman. Bila melihat penjelasan Quraish Shihab hal itu jelas tidak, mereka menerima kekhhalifahan khulafaurrasyidin sementara hanya sebahagian dari penganut syiah imamiah yang menaruh sikap antipati terhadap ketiga kahlifah itu. Dan kata Quraish Shihab (2007: 125) sikap seperti ini amat dimabil oleh orang-orang awam.

Sementara Muhammad Iqbal---pemikir muslim Pakistan---, dalam Sirah Nabawiyah menulis;

Itu pula sebabnya, tatkala keesokan harinya ia (Nabi) berusaha hendak bangun memimpin sembahyang seperti biasanya ternyata ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia berkata:

 "Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang sembahyang."
Aisyah ingin sekali Nabi  sendiri  yang  melaksanakan  salatmengingat bahwa tampaknya sudah berangsur sembuh.
"Tapi  Abu  Bakr  orang yang lembut hati, suaranya lemah dan suka menangis kalau sedang membaca Qur'an," kata Aisyah. Aisyah pun mengulangi kata-katanya itu. Tetapi dengan  suara lebih  keras  Muhammad berkata lagi, dengan sakit yang masih dirasakannya:
"Sebenarnya  kamu  ini  seperti  perempuan-perempuan  Yusuf. Suruhlah dia memimpin orang-orang bersembahyang!" Kemudian   Abu   Bakr  datang  memimpin  sembahyang  seperti diperintahkan oleh Nabi.Pada suatu hari karena Abu Bakar tidak ada di  tempat  ketika oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umarlah yang dipanggil untuk memimpin orang-orang  bersembahyang  sebagai pengganti  Abu Bakr. Oleh karena Umar orang yang punya suara lantang, maka ketika mengucapkan takbir di mesjid,  suaranya terdengar oleh Muhammad dari rumah Aisyah.
"Mana  Abu  Bakr?"  tanyanya. "Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian."
 Dengan demikian orang dapat menduga, bahwa Nabi  menghendaki Abu  Bakar sebagai  penggantinya  kemudian,  karena memimpin orang-orang  bersembahyang  sudah  merupakan  tanda  pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.

               Peristiwa ini lah yang selalu dijadikan khujah oleh kalangan sunni sebagai pembenaran untuk kekhalifahan Abu Bakar. Dengan alasan ketika Nabi sakit, maka yang ditunjuk oleh Nabi untuk menggantikanya sebagai imam shalat di mesi adalah Abu Bakar. Kembali penulis mengutip paragraph terkahir dari tulisan Iqbal; “Dengan demikian orang dapat menduga, bahwa Nabi  menghendaki Abu  Bakar sebagai  penggantinya  kemudian,  karena memimpin orang-orang  bersembahyang  sudah  merupakan  tanda  pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah”.
               Quraish Shihab 2007; 97-114) menyatakan, anatara kelompok syiah dan sunnah yang sangat menonjol adalah berkaitan dengan masalah imamah dan otoritas pemimpin. Bahkan kata Al-Ghita---seorang ulama syiah kontemporer---, cirri khas yang membedakan sunnah dan syiah adalah masalah tersebut. 
               Syiah memahami otoritas imam sebagai suatu jabatan illahi. Allah yang memilih berdasar pengetahuanya yang azali menyangkut hamba-hamba-Nya sebagaiman Dia memilih nabi’.    
               Syekh Ridha al-Mudzafar menyatakan ‘kami percaya bahwa al-imamah (kepemimpinan) seperti kenabian, tidak dapat wujud kecuali dengan nash dari allah melalui lisan nabi atau lisan imam yang diangkat nash apabila dia akan menyampaikan dengan nash imam yang bertugas sesudahnya. Hukum ketika itu sama dengan kenabian tanpa perbedaan, karena itu masyarakat manusia tidak memiliki wewenang menyangkut siapa yang ditetapkan allah sebagai pemberi petunjuk dan pembimbing bagi seluruh manusia, sebagaimana mereka tidak mempunyai hak menetapkan, mencalonkan, atau memilihnya’. 
               Quraish Shihab mengomentari; di atas terbaca ada persamaan antara Nabi dan Imam, keduanya dipilih allah. Hanya saja pemilihan Nabi disampaikan allah melalui malaikat Jibril, sedang pemilihan penunjukan Imam disampaikan oleh allah melalui nabi Muhammad dan beliau lah yang menyampaikan kepada yang terpilih, dalam hal ini Ali, dan imam Ali kepada imam berikutnya al-Hasan dan seterusnya.
               Ini juga berarti menurut Quraish Shihab dalam terminology syiah bahwa imam tidak mendapatkan wahyu seperti halnya Nabi, tapi imam menerima hukum-hukum dari Nabi saw. Lebih jauh walaupun imam-imam itu adalah manusia seperti manusia lain, namun mereka memperoleh kedudukan yang sangat tinggi, karena kesucian jiwa mereka. 
               Sementara menurut Quraish Shihab, kedudukan imam dalam pandangan ahlusunnah bersumber dari masyarakat atas dasar pilihan bebas mereka, atau yang mewakili merka. Karena itu masyarakat berkewajiban mengontrol imam/pemerintahan dan menuntut pertanggung jawabanya, bahkan masyarakat dapat mencopotnya jika imam terbukti melakukan kekufuran atau mengabaikan penegakan hukum agama. Sementara ulama sunni menetapakan bolehnya imam dicopot jika melakukan penganiyayaan terhadap jiwa atau harta benda atau hak-hak asasi manusia. 
               Dalam hemat penulis, pandangan yang seperti ini dapat dibuktikan jika menurut sejarah kekhalifahan dalam dinasti Umayah dan Abasiah. Pergantian imam sering terjadi akibat dorongan dari masyarakat yang memberontak tidak puas dengan kepemimpinanya. Satu sama lain dalam masa tertentu saling menjatuhkan, kesetabilan Negara terabaikan. Wajar hal itu terjadi, karena kedudukan imam tidak lah sekuat kedudukanya dalam pandangan syiah, yang mengakuti tidak ada campur tangan manusia dalam hal ini. 
               Sekalipun kata Quraish Shihab, banyak ulama ahlusunnah berpendapat bahwa tidak dibenarkan menempuh cara kekerasan untuk menggulingkan pemerinrahan. Mereka berpendapat bahwa menaati imam yang otoriter semisal Muawiyyah bin Abi Sufyan lebih sedikit mudharatnya disbanding dengan kekacauan. 
               Dengan demikian kata Quraish Shihab, dapat membadingkan bahwa ahlusunnah menilai penetapan imam ditempuh melalui musyawarah, yakni pilihan anggota masyarakat atau katakanalah dalam masyarakat moderen seperti saat ini lebih popular dikenal dengan istilah demokrasi. Sedangkan dalam pandangan syiah, imam adalah pilihan tuhan  semata-mata dan dengan demikian dapat dikatan sebgai teokrasi, walaupun istilah ini tidak disenangi oleh banyak pemikir islam kontemporer. 
               Orang  syiah mempercayai bahwa imam mempunyai kedudukan yang sama dengan nabi dari segi kemaksuman, yaitu keterpeliharaan dari perbuatan dosa, bahkan tidak mungkin keliru dan lupa. (Quraish Shihab, 2007 :100-110)
               Mengenai alasan terhadap pendapat orang syiah yang demikian berikut penjelasan yang disampaikan oleh Ruhullah Imam Khomaini :
“sesungguhnya imam memiliki kedudukan yang terpuji serta tingkat yang tinggi, serta kekhalifahan terhadap alam yang tunduk kepada kekuasaanya (kekhalifahan itu) semua atom (butir-butir) alam raya. Seseungguhnya merupakan bagian dari pemahaman aksioma mazhab kami adalah imam-iamam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh malaikat yang didekatkan (allah ke sisi-Nya), tidak juga oleh nabi yang diutus (allah). Sesuai dengan riwayat-riwayat  dan hadis-hadis yang ada pada kami, rasul tentang (muhammad) dan imam-iama---sebelum penciptaan alam---, merupakan cahaya-cahaya yang dijadikan allah memandang ke a’rsy (singgasana allah) dan meganugrahkan buat mereka kedudukan dan kedekatan yang tidak diketahui (betapa tinggi dan agungnya) kecuali oleh allah swt. 
 
               Demikian lah apa yang disamapaikan imam Khomaeni ini dalam hemat penulis bisa dijadikan alasan mengapa dalam terminilogi syiah imama mempunyai kedudukan tinggi samapai pada titik kemaksuman. Imam mempunyao kedudukan yang termat tinggi, samapai malaikat pun tidak mendapatkan kedudukan itu. begitupun dalam penciptaan, sebelum ala mini mengada, imam beserta para nabi telah diciptakan. Maka wajar bila imam mempunyai kedudukan yang tinggi. 
               Lebih jelasnya syekh Mudzaffar menjelaskan; “kami percaya bahwa imam, seperti nabi, haruslah terpelihara dari semua keburukan dan kekejian, yang lahir dan yang batin, sejak usia kanak-kanak sampai dengan kematian, dengan sengaja atau lupa. Dia juga harus terpelihara dari lupa, dan keslahan karena para imam adalah pemelihara syariat dan pelaksana ajaran agama, keadaan mereka dalam hal tersebut seperti keadaan nabi. Dalil yang mengantar kami percaya n lah  imam, tentang keterpeliharaan nabi dari dosa dan kesalahn itu jugalah yang mengantar kami percaya tentang keterpeliharaan para imam, tanpa perbedaan”. 
               Syekh Ridha al-Mudzafar sebagaiaman ayang dikutip Quraish Dhiba menyatakan;  ‘kami percaya bahwa al-imamah (kepemimpinan) seperti kenabian, tidak dapat wujud kecuali dengan nash dari allah melalui lisan nabi atau lisan imam yang diangkat nash apabila dia akan menyampaikan dengan nash imam yang bertugas sesudahnya. Hukum ketika itu sama dengan kenabian tanpa perbedaan, karena itu masyarakat manusia tidak memiliki wewenang menyangkut siapa yang ditetapkan allah sebagai pemberi petunjuk dan pembimbing bagi seluruh manusia, sebagaimana mereka tidak mempunyai hak menetapkan, mencalonkan, atau memilihnya’. 
               Dalam hemat penulis dengan merujuk pada pendapat di atas dapatlah disimpulkan bahwa allah lah yang mempunyai otoritas untuk mengangkat imam. Masyarakt luas sama sekali tidak berhak untuk menetapkan imam. 
               Sementara dalam terminology sunni sebagaimana menurut Quraish Shihab, kedudukan imam dalam pandangan ahlusunnah bersumber dari masyarakat atas dasar pilihan bebas mereka, atau yang mewakili merka. Karena itu masyarakat berkewajiban mengontrol imam/pemerintahan dan menuntut pertanggung jawabanya, bahkan masyarakat dapat mencopotnya jika imam terbukti melakukan kekufuran atau mengabaikan penegakan hukum agama.
 
Taqiyah dan Imam Mahdi
               Taqiyah dari segi bahsa menurut Qurasih Shihab (2007: 199) berarti pemeliharaan atau penghindaran. Sedang menurut istilah “meningalkan sesuatu yang wajib demi memelihara diri atau menghindar dari ancaman atau gangguan”. 
               Dapat pula didefinisikan bahwa taqiyah itu semacam dispensasi diaman seseorang menyembunyikan iamanya ketika mereka dipaksa untuk masuk agama lain dalam keadaan diancam keselamatan jiwanya, tapi mereka tetap beragama islam dan mengimaninya di hati, tanpa harus terlihat secara fisik. 
               Secara umum kalangan syiah sangat kental dalam menggunakanya. Bahkan menurut syeikh Mudzaffar; “taqiyah adalah khusus imamiah yang dikenal oleh kelompok dan umat yang lain”. 
               Landasan yang digunakan dalam taqiyah menurut Quraish Shihab adalah;
kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman….”(QS. An-nahl (16); 106). 
               Mengomentari ayat seorang ulama sunni Faruddin ar-Razi berpendapat ; “teks ayat secara lahiriah menunjukan bahwa taqiyah baru dibenarkan dalam menghadapi orang-orang kafir yang berkuasa, tapi mazhab safii berpendapat bahwa keadaan (yang dilakukan oleh kaum muslim jika menyerupai keadaan kaum muslim dihadapi oleh kaum musyrikin), maka ketika itu taqiyah dibenarkan. 
               Lebih lanjut ar-Razi menjelaskan; “taqiyah dibenarkan bagi orang-orang mukmin sampai hari kiamat. Pendapat ini lebih utama (datipada pendapat yang membatasi waktunya hanay masa lampau) karena menampik mudharat bagi jiwa adlah wajib, sebatas kemampuan”. 
               Dari beberapa argumentasi di atas salam hemat penulis, konsep taqiyah dapat dibenarkan baik di kalangan syiah maupun di kangan sunni. 
               Sementara itu, Imam mahdi merupakan gelar seorang tokoh yang dipercayai akan tampil menegakan keadilan, ia merupakan imam terkahir dalam madzhab syiah. Bernama  lengkap Abu al-Qasim Muhammad bin al-Hasan. Menghilang sebelum dewasa dan akan muncul kembali sebagai imam mahdi yang dinantikan. 
               Menurut Qurasih Shihab (2007: 127-128), terhadap hadist-hadist yang menginformasikan akan kedatangnya. Hadist-hadist tersebut antara lain menginformasikan imam Mahdi adalah seorang dari keturunan ali bin abi thalib dan istri beliau, Fatimah, putrid rasulallah. Dia akan berkuasa selama tujuh tahun, atau sembilan tahun memenuhi persada bumi ini dengan keadilan; kehadiranya berbarengan dengan kehadiran Nabi Isa, dan beliau mengimami nabi Isa.  
               Penganut syiah percaya bahwa ketidak tampakan imam Mahdi terbagi dalam dua periode. Yaitu ghaibah syugra ; yaitu sejak ayahnya meninggal sampai dengan wafatnya semua perantara anatara al-Mahdi dengan masyarakat penganut aliran syiah. Dan ghaibah kubra yang berlangusng sejak berkahirnya ghaibah syugra sampai kini, bahkan sampai dengan kehadirannya nanti yang dipercayai sebagai akan hadir di masa datang.                          


[1] Mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2007 UMY, Alumni Pesantren Persis 99 Garut

Aku Melihat Gie Dengan Ketidak Jelasan[1]


soehokgie_asli

Saat ini aku seolah sudah siap untuk mati, Gie kata orang dikenal karena meninggalkan tulisan, sekalipun usianya baru 27 tahun. Aku sudah meninggalkan apa yang ditinggalkanya, jadi tak masalah. Aku yakin, gagasanku akan hidup bahkan ada yang rela untuk melanjutkanya[2].

Tak tahu aku harus melihat Gie dari sisi sebelah mana kawan, dari manapun ia bisa dilihat. Aku hanya teringat sebuah cerita dari mas Faris Al-Fahd, Ahmad Wahib mati muda, dia sama dikenal banyak orang, dikenang, dan gagasanya banyak yang melanjutkan. Satu yang ditinggalknya, catatan kecil tentang me-wahab sebagai bentuk pengakuan dirinya mengada yang bersumber dari keberadaan, dan keinginanya untuk mengajak baginda Muhammad hidup di abad IX.

Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan”. Demikian komentar Max Well mengenang Gie untuk disertasi doktornya.

Gie menulis untuk kematianya;

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua, rasa-rasanya memang begitu, bahagialah mereka yang mati muda[3].

Aku jadi teringat apa yang dikatakan Fahd Djibran kepadaku.”satu yang membuatku ingin menul. Aku dendam. Kenapa aku lebih mengenal Ahmad Wahib dari pada kakeku, Wahib meninggalkan tulisan, sementara kakeku tidak”. Alasan yang selalu diulang untuk dikatakan kepada siapapun yang ditemuinya.

Di sini aku melihat Gie sebagai seorang yang meninggalkan tulisan, dia tidak sendiri, banyak orang yang mengikutinya. Gie sejajar atau bahkan hampir mirip dengan Ahmad Wahib, sama-sama dikenang karena meninggalkan tulisan. Andai Gie tidak meningglakan tulisan, mungkin sekarang aku tidak akan mengenal namanya. Riri Riza tidak akan pernah memproduseri sebuah film yang menceriatakan tentang kehidupanya. Maka berbahagialah mereka yang menulis, sekalipun mati muda akan tetap dikenang oleh sejarah.

Mungkin puisi dalam catatan harian yang Gie tulis di atas “berbahagialah mereka yang mati muda” maksudnya berbahagialah mereka yang mati dan meninggalakan tulisa. Sementara sindiranya dengan mengatakan “yang tersila adalah umur tua”, khusu untuk mereka yang diberi kesempatan hidup lama tapi tidak meninggalkan tulisan.

Bangku kuliah bukan tempat terindah bersemayamnya Gie, memang dia terbiasa duduk manis di sana, tetapi jalanan lebih disukainya. Gie lebih tergerak untuk menggabungakan diri dalam aksi-aksi jalanan mahsiswa, dia bukan seorang yang diperhitungkan, tapi lebih tepat untuk dikatakan sebagai actor intelektual di belakang mereka yang menggerakan. Sekalipun akhirnya dia kecewa; “sebagian dari pemimpin-pemimpin KAMI[4] adalah maling juga, mereka korupsi mereka berebut kursi”. Tulisnya.

Teras rumah warga di Bantul sama lebih ku senangi untuk duduk manis, hatiku sejuk dan otaku kosong, dari pada duduk di atas bangku dalam ketertekanan, hati gusar melihat jarum jam, ingin segera cepat berakhir. Bersendagurau dengan pak Dukuh bagiku itu pelajaran sesungguhnya, aku baru tahu dari dua orang yang tidak bisa berbahas Indonesia, papan tulis yang berejakan “Ibu sedang memasak di dapur” adalah mata pelajaran ibu-ibu kampung yang buta hurup.

Aku jadi ingat dengan apa yang ditulis Gie, yang bagiku substansinya tidak jauh beda dengan teologi Al-Maun-Nya Ahmad Dahlan dan tauhid sosialnya M. Amien Rais, kedua orangku di Muhammadiyah yang perjuanganya mesti dilanjutkan.

Ketika aku berbicara dengan Parsi sore tadi, ia juga mengalami apa-apa yang aku alami. Pada kita timbul keragu-raguan yang besar, apakah masih ada gunanya belajar berdiskusi dan lain-lain sedang rakyat kelaparan di mana-mana. Padanya terjadi rangsangan kuat untuk bertindak to take an action[5].

Jauh dari oportunis, jauh dari pragmatis, itulah yang ingin aku katakana. Andai Gie tahu saat ini mahasiswa hanya menjadi budak dari nilai mungkin dia akan menulis kritik tajam. Biaralah Gie tidak bias menulis kritik itu, dan aku yang akan menuliskanya. Betapa bodohnya andai Indeks Prestasi dijadikan tumpuan, pagi berangkat kuliah, dan siang pulang. Sementara masyarakat di sekliling kita kelaparan, mereka bodoh, tidak sedikit yang tidak bisa membaca dan menulis. Kita adalah generasi muda, actor di balik perubahan sosial, sudah saatnya bergerak, tidak hanya duduk manis mendengarakan omong kosong dosen. Sebagaia mana Gie mencintai jalanan untuk berdemonstarsi, kenapa tidak kita pun turun ke jalan untuk menentang pemerintahan yang kotor.

Andai Gie menganggap Soekarno sebagai penghianat perjuanganya sendiri di masa colonial, maka kau dan aku harus tidak mau untuk menjadi penghinat untuk perjuangan kita saat ini. Percuma bercucur keringat tangan berdarah dalam ceos menyambut kedatangan orang nomor satu bangsa ke Jogja, bila kelak tak ubahnya kau dan aku hanya menjadi penghianat baru untuk bangsa sendiri. Perjuangan kita bukan jalan untuk mencari kedudukan. Gie bergerak bukan untuk berkuasa sebagaiamana teman-temannya pemimpin gerakan mahasiswa yang akhirnya menjadi penghianat gerakananya sendiri.

Keterasingan menjadi jalan hidupnya Gie; “karena saya memutuskan, bahwa saya bertahan dengan prinsip-prinsip saya, lebih baik diasingkan dari pada menyerah terhadap kemunafikan”. Tegasnya, begitu meyakinkan.

Tulisanya dalam catatan-catatan harinya benar-benar menyentuhku, apakah kau juga demikian?. Kita harus mengkaji terus, berulang-ulang jalan apa yang terbaik untuk melawan, berjuang meniti kehidupan masyarakat berkemanusian yang lebih baik. Kita lebih baik menjadi manusia terasing dari kehidupan, untuk mempertahankan idelaisme. Gie telah melakukanya, anadai kita terjebak dalam kepentingan sesaat, maka janngan pernah berharap akan mati terhormat sebagaimana terhormatnya Gie di mata-mata orang idealis.

Gie adalah teks, ia bisa dilihat dari sisi manapun dan kita dengan bebas bisa menafsirkanya juga, sesuai dengan kehendak dan kemampuan kita.


[1]Diutlis oleh Rijal Ramdani, aktivis IMM, blogger mania, penyayang kucing dan ikan, bisa ditemui dalam htp//www.anaxifirdaus.blogspot.com. untuk pengantar nonton bareng film Gie 30 Desember 2008.

[2]Dikutip dari catatan harianku—Rijal---.

[3] Catatan Seorang Demonstran ---karya Gie, catatan harian yang dibukukan---. Hal 7

[4] Kesatuan Aksi Mahsiswa sekitar tahun 65-an, terdiri dari kesatuan gerakan yang menentang korupis di pemerintahan, dan kenaikan harga sembako.

[5] Catatan Seorang Demonstran. Hal 31

Senin, 29 Desember 2008

Orang Aneh


Gua nggak tahu sebetulnya apa yang terjadi dengan diri, gua merasa hidup ini sama sekali tak berarti. Pertanyaan

“untuk apa gua hidup dan mengapa gua hidup?”

demi allah setengah mati terus-terusan membayangi di manapun gua berdiri. Terkadang bingung, sebetulnya kenapa gua memikirkan hal itu, apa manpaatnya andai jawaban dari dua pertanyaan itu terjawab.

Andai gua nggak terlahir ke dunia ini, mungkinkah dunia ini ada?. Seandainya dunia tetap ada walaupun gua nggak terlahir ke dunia, posisi gua berada di mana?. Apakah ada tempat tinggal selain bumi yang saat ini gua pijaki?. Andai ada, kenapa gua harus hidup di bumi, kenapa gua nggak ditempatkan di tempat lain?.

Semua orang mengatakan kehidupan ini akan berarkhir bila tidak ada air, katanya pula andai di Mars ada air sudah dipastikan manusia akan berbondong-bondong pindah ke sana. Membuat kehidupan baru, tempat rekreasi baru, tempat hiburan, prostitusi dan hotel-hotel mewah di sana. Apakah benar selain air ada sesuatu yang bisa menggantiakanya?. Inikah bukti konkrit terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa sesuangguhnya segala sesuatu berasal dari air?.

Bagi gua andai manusia semuanya percaya segala sesuatu dari air, mereka semua goblok, nggak mau menggnunakan akal untuk berpikir ulang. Nggak mungkin asal segala seuatu dari air. Permukaan air itu lembek tidak akan mampu menahan beban yang kuat, kecuali jumlah volume airnya besar baru bisa menahan beban. Namun bila airnya hanya setets air tidak bisa menahan beban apapun, bahkan air akan melebur menempel di setiap tempat yang bisa diresapinya.

Air beda dengan batu, batu itu kerasa permukaanya, benda apapun yang menumpanginya batu akan tetap kuat untuk menahanya. Kecuali bila batu dipukul uratnya dengan tepat, barulah batu bisa terpecah menjadi beberapa keeping. Apakah mungkin batu yang begitu kuatnya berasala dari air?. Ini sesuatu yang tidak mungkin.

Apa yang dikatakan sejarah mengenai manusia yang berasal dari Adam, kemudian sebagaian lagi berkata manusia berasala dari kera. Kedua kubu ini berdebat panjang, satu sama lain saling menjatuhkan argumentasi. Gua cape dengan buku-buku, makalah-makalah dan jurnal-jurnal dalam media masa yang selalu berdebat tentang hal ini. Sama sekali gua nggak menemukan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa manusia bukan berasal dari Adam ataupun kera, tapi manusia berasal dari---terserah mau dari apapun---yang penting ada pendapat baru.

****

Saat gua sendiri, setiap kali masuk ke kelas tak ada seorang pun yang peduli kalau gua datang. Beda banget kalau yang datangnya bukan gua, pastilah salah seorang dari yang menempati tempat duduk di kelas menyambut dengan ungkapan-ungkapan persahabatan.

“whey brow loe keren benget pake tas itu”. “whey bro, loe datang terlambat terus ya!!!”.

Sambutan seperti itu nggak pernah ada yang ditujukan buat gua, bila gua melangkahkan kaki melewati pintu tak ada satupun yang peduli sejenak menatap langkah gua. Tak ada seorang pun yang mengajak gua supaya duduk sebangku. Gua terisolasi, duduk sendiri, merenung sendiri, menghadapi masalah sendiri, jajan sendiri dan sibuk dengan pikiran-pikiran gua sendiri.

Sebetulnya bukan berarti anak-anak di kelas benci sama gua, atau mereka jiji dan muak dengan gua. Justru sebaliknya, mereka segan, mereka malu untuk menyapa. Gua terlalu terhormat bagi mereka, mereka merasa terlalu kecil bila berhadapan dengan gua.

Terkadang di saat bosan dengan kesenderian, gua mencoba bergaul membincangkan hal-hal konyol dengan mereka. Berusaha sekuat tenaga bertahan dalam obrolan mereka. Tapi percuma saja, apa yang mereka bincangkan sama sekali nggak bermutu, hanya berbincang mengenai rokok terenak yang mereka isap, hanya berbincang mengenai perempuan tercantik se kelas Satu dan hanya berbincang mengenai hits-hits terbaru yang beredar di belantika musik Indonesia.

Muak gua dengan obrolan-obrolan yang tak berguna seperti itu, sama sekali tak bereferensi buku-buku, obrolan kosong yang hanya mengedepankan bualan.

Gua lebih senang membaca Dunia Sopi karya Justin Garder, buku-buku Tasauf dan Novel Ayat-Ayat Cinta. Bagi gua itu lebih berarti dari pada ngikutin sipat-sipat bodohnya anak-anak. Gua heran apakah mereka tak berpikir bagaimana masa depan jadinya?, apakah tuhan akan menjadikan mereka seorang pengemis, tukang becak, atau mucikari?. Seolah sama sekali tak ada kekhawatiran akan terjebak pada kemiskinan, atau hidup yang selalu menyusahkan orang lain.

Tidakah pula mereka merasa gersang dengan hatinya, padahal setiap hari mereka jauh dari mesjid, shalat duha, shalat lail apalagi saum sunah senin kamis. Padahal bagi gua, andai ritual-ritual syariat itu ditinggalkan, mampus lah sudah, hati gua gusar penuh dengan kekecewaan terhadap diri sendiri. Berbicara tidak terarah, dan hidup seolah tak mempunyai pegangan.

Kenapa gua merasakan hal itu dan terjebak pada rutinitas untuk menaklukanya, sementara mereka seolah tak merasakanya, mereka terlihat senang fuun dengan dunianya, padahal dunianya penuh dengan kemaksiatan.

Ada gejala yang salah kayanya, apa yang gua lakuin selama ini salah.

****

Udara pagi begitu sejuk terasa, gumpalan awan mengepul di langit pada titik-titik tertentu. Bila biasanya selesai baris-berbaris di depan kelas, seluruh santri bergeas menuju kelasnya masing-masing, untuk pagi ini tidak. Ruangan perpustakaan pesantren yang terletak di sebelah barat penuh sesak dikerubuti dari segal penujuru. Semua jendela satupun tak ada yang menyisakan tempat kosong.

“innalillahi”.

“subhanallah”.

Dua kalimat itu uterus-terusan terualang terucap dari siapapun yang melihat ke dalam perpustakaan. Apa yang terjadi di perpustakaan gua nggak tahu apa?, sama sekali gua nggak peduli apapun itu yang terjadi. Manusia ini memang mahkluk bodoh, bila ada satu yang dianggap aneh oleh seseorang, dengan sendirinya yang lain berjubel menggap apa yang dilihatnya sebagai sesuatu yang aneh juga.

Apa bedanya dengan binatang kalau seperti itu, ketika seekor macan terhenti saat melihat kijang, dengan sendirinya kelompok yang bersamanya terhenti pula. Semuanya memainkan feeling untuk menangkap kijang itu. Begitupun dengan Buaya, ketika seekor darinya menemukan bangkai Kuda Nil, yang lainya ikut mengkerubuti bangkai itu, bejubel berebut lahan mencari posisi enak supaya bisa ikut makan.

Manusia ini beda dengan hewan, harus mempunyai pegangan dalam bersikap. Ketika orang terheran dengan suatu keajadian, sebagai seorang manusia seharusnyalah tak usah mengikuti keheranan yang dirasakan orang lain, manusia harus mencari keheranan lain yang berbeda.

“Batu bagaimana kabarnya, ko kamu nggak ke perpustakaan yang lain kan pada kumpul di sana?”.

Seorang kaka kelas pengurus RG menyapa, bingung Gua harus berbuat apa?, membalas sapanya, itu nggak mungkin, gua sedang saum berbicara sebagaimana yang dilakukan ahli-ahli tasauf supaya hati bersih .Namun andai tak menjawabnya dengan hanya berdiam diri, Gua nggak sopan dan nggak pantas, dia kaka kelas gua dan satu daerah dengan gua.

Senyuman kecil yang hanya gua lakukan sebagai balasan atas sapaannya, tak berbipikir panjang Gua bergegas menaiki tangga menuju tangga berikutnya. Sedikit melirik ke belakang, gua ngeliat dia bengong dan menggelengkan kepala. Gua yakin otaknya sedang terperas, mungkin aneh dengan sikap Gua yang tak sopan padanya. Ternyata diawal takut berbuat nggak sopan, kini ketakutan itu hilang, yang ada justru sedikit senang karena telah membutanya terbengong menggelengkan kepala keheranan. Bagi gua ini prestasi, mampu membuat orang lain pusing dan kepusinganya itu tentunya melahirkan pertanyaan keheranan.

Masuk kelas gua sama sekali nggak mengucapkan salam, maunya mengucapkan salam, ini tradisi di kelas, tapi sedang saum berbicara jadi wajar kalau gua nggak mengucapkan salam. Awal masuk di belakang anak-anak terlihat beberapa orang sedang berbincang, sama saja tak di sini dan tak di situ, sibuk meneritakan kejelekan Rio yang mencoba melakukan bunuh diri di perpustakaan.

Bersambung Brow ini Novel Gua, doain moga selesai ya...!!!

Lidia Moskow


Di siang hari embun masih terasa, salju tanpa henti-hentinya bertebaran riang mengikuti rasa sakit hati yang menjadikan langkahku terombang-ambing seperti ini. Tatapan mataku yang kosong tidak mampu menepis bersitan cahaya mendung di tengah hari kesiangan.

"hai…Lidia……Lidia"

aku menyadari lembut memangggil-mangggil namaku, tapi hatiku berbisik "kenapa kau harus seperti ini ?",

bisikan itu terhenti tanpa aku inginkan, seolah hati berjalan mengikuti kemauan sendiri.

Setiap hari aku berjalan menyusuri troar halpas 70 Elgar, aku tak asing dengan suasana kota Moskow yang penuh dengan kerumunan orang-orang sibuk dan lalulintas padat dengan jalan bersalju.

"hai………Lidia……..Lidia…. Lidia..",

aku tahu tak baik aku bersikap seperti ini, mengacuhkan sapaan. Padahal dulu aku seorang yang ramah dan murah senyum, namun entah kemana sikap itu hilang bersama dedaunan Murbai yang terjatuh tak kuat menahan derasnya salju.

"Taxi….Taxi….", lambaian tanganku ajaib mampu menghentikan kecepatan kendaraan khas kota Moskow.

"Grad of strate dskrok stronger ?",

itu adalah sapaan sopan yang biasa terucap dari sopir Taxi penganut Nasrani Ortodox. Beda lagi dengan sapaan sopan sopir Taxi penganut paham Lenin ketika mempersilahkan penumpang untuk menaiki Taxinya. Mereka lebih suka mengucapkan sapaan dalam bahasa Jerman "laind doxor brizg stond". Tapi apa peduliku dengan sapaan mereka ini, aku tak suka sama sekali dengan sapaan mereka itu karna aku tak tahu bahkan benci dengan para penganut paham tertentu seperti mereka. Bagiku hidup ini berdiri sendiri tak terikat dengan dogma apapun.

Sungguh aku tak peduli, yang aku pedulikan hanya apa yang kau anggap perlu untuk dipedulikan. Paham Marxis, itu dia yang selama ini aku cari, takan kubiarkan sungguhpun apa yang terjadi sebelum jasadku menyatu dengan kekuatan kepedulian Hendrich Karl Mark. Kusumpahkan dalam aura nadiku, aku benar-benar kagum dengan kepedulian hidup manusia setengah manusia, setengah jasadnya menyatu dengan kekuatan filsafat sehingga membawanya pada kehidupan abadi memperjuangkan ketidak adilan para penguasa.

Tatapan mataku menghentikan semua gemuruh nabiku, hanya Tiga Kilometer kenyataan akan menhadapiku.

"Pail Stret Prop Ofox polis snitz eineir", aku biasa mengungkapkan keinginanku dengan bahasa Swizerland. Di Moskow unik memang semua bahasa eropa kecuali Francis mudah untuk dimengerti siapapun juga.

"Not…Please, wait", pengertian driver yang keliatanya ber OOPS memutarkan lagu Sinozix, "when iam wraiting, she looks me by beautiful eyes". Lagu pavoritku menemani kedinginan perjalanan, tak henti-entinya driver menggelengkan kepala mengikuti alunan music melankolis khas eropa timur itu.

" plese stop….stop..", aku menghentikan laju Taxi tepat di depan benteng Kremlin yang akan menjadi jalur perjalananku menuju Universitas Moskow, mengingat kebijakan Gorbacep menempatkan fakultas Marxisme langsung bersentuhan dengan kantor departemen Proletar of Come Back.

"are you ready to wait the big filsuf ?". Aku heran, benar -benar tak menyangka dengan pernyataan yang baru saja telontar.

Di luar terlihat seorang laki-laki berjubah berjalan perlahan menatap ke dalam Taxi, aku semakin curiga dengan gerak - gerik merpati di sekeliling trotoar Simpul Bridge.

"jangan takut Lidia",

suara sinis dengan tatapan mata tak bersahabat terlontar dari depan, aku semakin ketakutan.

"jangan takut Lidia, percayalah padaku, aku ini sahabat filsufn besar yang selama ini kau jadikan pigur dan pengabdian dalam perjuanganmu menghilangkan kemiskinan…percayalah".

Rasa takut semakin menjalar menyusuri seluruh pori-pori kulit tubuhku, tak mungkin aku memberontak unttuk keluar, aku khawatir kejadian tiga bulan silam terulang, diamana aku benar-benar merasakan panasnya tembusan peluruh bersemayam dalam goresan kulitku. Aku terdiam mencoba menenangkan diri,

"kau ini sipa ?, kenap kau tau namaku ?". hatiku berbisik tuk bertanyata, tapi sayang itu hanya dalam hati, tak bisa kuucapkan dengan kat-kata, bukan aku tak mau tuk mengucapkanya, namun mulutku sulit tuk mengatakan kata-kata itu.

Driver berbalik menatapku dengan tatapan keraguan, matanya berkedip seolah memberikan isyarat dalam isyarat yang biasa dipakai dalam metode penarikan kesimpulan romantisme psikologi kaum urban dari jJerman. Seketika mataku sulit untuk ku buka terus, aku terpejam, sedikit tubuhku bergerak tiba-tiba suasana menjadi cerah. Elok rasanya aku bersimpu setengah berbaring di belakang sosok laki-laki tua berjubah dengan jenggot putih lusuh penuh dengan debu-debu percikan dari buku yang dipegangnya. Dia menatapku dengan tatapan tajam seolah ingin secepat mungkin membunuhku, wjahku tak bisa kusembunyikan namun gambaran ketakutan sekuat tenaga aku matikan dalam pancarnnya

Dari balik jeruji yang mengelilingi semua arah disekitarku terlihat tumpukan buku-buku lusuh beribu tahun umurnya. Aku sedikit hapal dengan kondisi buku, mengingat keasikan Marx meneliti tesis sebagai dalil untuk kehancuran perekonomian kapitalis menjadi motivasi kuat bagiku untuk bersahabat dengan berbagai usia buku.

"angkatlah wajahmu nak, kau manusia terpilih…kau manusia terpilih untuk melanjutkan ritual antar generasi dalam setiap abad untuk mengembangan….untuk mengembangkan filsafat keabadian namaku". Sapanya untuku berupa permintaan halus.

Suaranya aneh, berbeda dengan tatapan wajahnya, terdengar lembut serasa lembutnya saat aku menikmati sair - sair abad pertengahan. Bibirku berucap pelan, namun ucapanya tak keluar sama sekali hanya sedikit bergerak berat ke samping kiriri dan kanan

"hi..hi..hinakah aku mengabdikan hidupku untuk memujamu sebagaimana pemujaanya para penganut agama terhadap apa yang mereka sebut tuhan".

Suara itu hanya terdengar oleh diriku, tak mungkin walupun satu satu senti orang akan mendengarnya.

"jangn kau sebut tuhan dihadapanku, aku teramat benci denganya, kematian keluargaku cukup pahit untuk mengingatnya". Otak membawaku pada bisikan hati yang kedua, aku benar-benar bangga pahamnya telah menyatu dengan jiwaku.

Perlahan laki-laki tua mendekatiku dengan menggemgam secar kertas di kedua tanganya. Dia semakin menatapku dengan tatapan penuh keheranaan, mataku tak sanggup tuk beradu tatap dengan ketajaman matanya, seketika itu juga aku menundukan kepala mencari pandangan lain di hadapan wajahku.

******
Bersambung Brow Tunggu Aja

Kamis, 30 Oktober 2008

Mengenang Sahabat


Persahabatan adalah segalanya, sahabat dan diriku sama sekali tak terpisahkan, ia menyatu bagaikan dua keping mata uang. Siapa yang nggak sedih coba?, dalam sejuknya kebersamaan kenyatan berkata lain. Andai di dunia ini tak ada waktu mungkin aku dan sahabat takan pernah terpisah . Dengan jarak yang membentang diriku dipisahkan oleh kepualaun. Pulau jawa yang saat ini kupijaki, sementara sahabat semuanya menghisap udara di kepualaun Bima, sebuah pulau di mana dahulu aku dan sahabat menatap hari esok menuju jalan hidup masing-masing.

O ya, ada yang terlupakan kenapa aku menghisap air mata demikian, dahulu aku layu, sekarang pun demikian, aku layu juga. Bukan karena aku sekuntum bunga dari tumbuhan, tapi karena aku sedang teringat akan kenangan manis di saat sahabat menatapiku, mengejeku dan mengata-ngatakan kalau aku seoarang anak manis keturunan Mongolia. Aku tahu, mereka bukan membenciku, mereka bukan menganggapku beda dengan kebanyakan orang biasanya. Aku tahu betul, ejekan mereka bukanlah cercaan melainkan pujian atas kekeguman kulit putih yang terpancar dari semenanjung tubuhku.

Sayang bila kau tak melanjutkan membaca cercahan cerita anatara aku dengan sahabat, mungkin kau takan kehilangan sesuatu tapi percayalah apa yang akan aku kisahkan ini, sungguh akan menjadi kenangan berharga untuk dirimu melangkah menju perasahabatan dengan sesama, baik itu seorang yang berketurunan Afrika, Andulisia atau bahkan Nigeria.

Aku yakin kau tahu, satu hari sebelum ini adaah hari sumpah pemuda, mendengar tanggal 28 Oktober sama dengan mendengar seoarang motivator meneriakan yel-yel supaya dirku bangkit untuk bersahabat dengan siapa pun. Mario Teguh, dialah motivator yang ku maksud, ditinya sam dengan tanggal 28 Oktober. Persahabaatn terlambang dari dua teks ini, baik teks berbentuk manusia maupun terks berbentuk penanggalan. Siapa yang tak berkenan untuk besahabat, menegnang kebaikan sahabat dan berusha melupakan kesalahan yang dilakukan sahabat, maka bagiku dirnya bukan seoarang bijak yang tahu makan tanggal 28 Oktober sebagai bentuk lain dari seorang Mario Teguh.